Top Picks
Wabub Kutim Jelaskan Urgensi Perubahan Perda Retribusi dan Pembentukan Desa Persiapan Dishub Kutim Kirim 3 Pelajar Ikuti Seleksi Pemilihan Pelajar Pelopor Keselamatan LLAJ Tingkat Provinsi Kaltim May Day 1 Mei 2024, Bupati Kutim Peringati Bersama Para Buruh Musrenbang 2019 Busang Didukung Anggaran Rp19 Miliar DPRD Kutim Hearing dengan PT Telen dan Koperasi Pertanian, Bahas Soal Sertifikat Lahan Plasma Sapto Dukung Pengelolaan Sampah Yang Sesuai Standar

DPRD Kaltim Soroti Peningkatan Kasus TBC

fokuskaltim.com - Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kalimantan Timur Puji Setyowati menyoroti peningkatan kasus Tuberkulosis (TBC) yang ada di Kaltim. Ia juga berperan aktif dalam upaya penanganan kasus tersebut.

Diketahui, ia mengungkap bahwa pada tahun 2000, ia mendirikan perkumpulan TBC yang mengikuti model dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), di mana ia menjabat sebagai ketua.

"Ketika itu saya bekerja sama dengan tim ahli, termasuk Dr. Syarifah, untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang TBC," tuturnya beberapa waktu lalu.

Adapun ia membeber beberapa gejala TBC yang perlu diwaspadai, seperti batuk yang berkepanjangan, kesulitan tidur, susah makan, dan penurunan berat badan, harus diidentifikasi dalam 7 hari pertama.

Puji Setyowati menekankan pentingnya masyarakat untuk melaporkan gejala tersebut ke puskesmas terdekat dan berkolaborasi dengan petugas mikroskopik untuk diagnosis TBC.

TBC telah menjadi masalah kesehatan yang signifikan di masyarakat menengah ke bawah. Puji Setyowati mencatat bahwa mereka yang mampu secara ekonomi lebih mungkin mencari perawatan dari dokter spesialis, sementara penderita TBC dari lapisan ekonomi bawah sering kali mengalami kesulitan ekonomi, terutama ketika penyakit ini menyerang usia produktif.

Oleh karena itu, upaya pemberdayaan masyarakat menjadi sangat penting dalam penanganan TBC. Puji Setyowati mencatat bahwa obat TBC disediakan gratis selama 6 bulan, dengan dukungan positif dari pemerintah. Namun, untuk memastikan kesuksesan program, masyarakat miskin juga diberikan makanan tambahan selama bulan pertama pengobatan.

"TBC harus dikurangi karena memiliki dampak sosial dan ekonomi," tutupnya.  (adv/DPRDKaltim)

Baca Juga