Top Picks
Perbaikan TPA Kutim Diapresiasi KLHK, DLH Tegaskan Komitmen Pengelolaan Lingkungan Terdampak Konflik Sudan, Pemprov Kaltim Bantu Pulangkan 6 Warga Ketua II DPRD Kutim Sesalkan Tak Diberi Kesempatan Bicara di Musrenbang Rantau Pulung Hadi Minta ASN Tak Berhenti Belajar Guna Tingkat Kesejahteraan Tenaga Pendidik, Pemkab Kutim Rumuskan Kebijakan Stimulus Pengajar TK-TPA Pada Program BJPS Ketenagakerjaan Rapat Paripurna ke-28 : Pandangan Fraksi PDIP Terkait Lampiran Hasil Audit BPK, Pemerintah Sampaikan Tanggapannya

Bontang Rawan banjir, Agus Aras: Butuh Langkah komprehensif

fokuskaltim.com - Anggota DPRD Kaltim, Agus Aras menilai upaya penanganan banjir di Kota Bontang membutuhkan langkah komprehensif dan tidak dapat dilakukan secara parsial. Agus menegaskan bahwa desain penanganan banjir yang menyeluruh sangat penting agar bantuan dari provinsi dan pusat dapat diarahkan secara efektif. Menurut Agus, kolaborasi antara pemerintah kota dan pemerintah provinsi menjadi kunci dalam penanganan banjir, terutama di wilayah yang menjadi kewenangan provinsi.

“Selaku anggota Dewan Kaltim dari Dapil VI, tentu saya siap berkolaborasi dengan pemerintah kota untuk mengatasi banjir,” ungkapnya, Kamis (31/10/2024).

Sebagai contoh, Agus menyebutkan rencana pembuatan sodetan sungai di Kutai Timur yang bermuara ke Sungai Bontang sebagai salah satu solusi potensial untuk mengurangi risiko banjir. Namun, ia menegaskan bahwa rencana ini membutuhkan perencanaan matang agar bisa dieksekusi secara optimal. Agus juga mengungkapkan bahwa alokasi bantuan keuangan (Bankeu) dari APBD Kaltim untuk Kota Bontang pada tahun 2025 mencapai Rp 226 miliar. Dana ini akan difokuskan untuk program penanganan banjir di berbagai titik rawan banjir di kota tersebut.

“Mayoritas alokasi Bankeu di Bontang memang untuk penanganan banjir. Mudahan, penerapannya di tahun 2025 lebih baik dan berdampak langsung pada masyarakat,” tuturnya.

Terkait dengan pembangunan Bendungan Pengendali (Bendali) di Desa Suka Rahmat, Agus menyebut proyek ini sebagai salah satu solusi penanganan banjir kiriman dari hulu sungai. Meskipun perencanaan telah rampung, ia mengakui bahwa ada kendala teknis di lapangan yang mengakibatkan proyek ini tertunda.

“Masalahnya, lokasi Bendali masuk dalam kawasan hutan lindung, sehingga menjadi kewenangan kementerian. Mudahan dalam waktu tidak lama bisa terselesaikan,” jelas Agus.(adv/tw)

Baca Juga