Top Picks
Pasar Kaliorang Diresmikan, Bupati : Saya Bangga Sudah Ada Pedagangnya Wabup Kasmidi Bangga Akan Prestasi Tim Sepak Bola U15 Kutim Jadi Champion di Kejuaraan Piala Bergengsi Soeratin Zona Kaltim Gami Bawis, Kuliner Khas Kota Bontang Salin Silaturahmi, DPRD Kutim Terima Kunjungan Komandan Lanal Sangatta dan Kasat Reskrim Polres Kutim Joni Ingin Industrial Methanol dan Semen Berdayakan Tenaga Kerja Lokal Festival Sekerat Nusantara Ajank Promosi Pariwisata, Kebudayaan dan Peningkatan Ekonomi Kreatif

Ananda Moeis Minta Pemprov Kaltim Tuntaskan Kemiskinan di Kaltim

fokuskaltim.co - Anggota Komisi IV DPRD Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) Ananda Emira Moeis menegaskan, kasus kemiskinan ekstrem ini harus dituntaskan agar angka stunting di Bumi Etam bisa semakin turun.

“Kita juga harus tahu indikator kemiskinan itu apa saja. Misalnya seperti tidak bekerja dan faktor ekonomi yang tidak stabil,” ungkapnya di jalan Kahoi RT 31, Karang Anyar, Sungai Kunjang, Kota Samarinda.

Pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota kata Ananda Emira Moeis, harus bersinergi dan membuat banyak program padat karya yang bisa membuka lapangan kerja di Kaltim.

Terutama, berbagai kegiatan pembangunan yang banyak menggunakan tenaga manusia dibandingkan dengan tenaga mesin.

“Jika saya boleh berpendapat, alangkah baiknya pemerintah itu lebih banyak membuat program padat karya yang memang menyasar masyarakat kurang mampu,” jelasnya, Minggu (26/3/2023).

Apabila semua pihak saling mendukung, ia merasa bahwa usulan ini dapat terlaksana dan terealisasi dengan baik. Mengingat, kedua kasus ini (kemiskinan dan stunting) saling berhubungan.

“Mengapa saling berhubungan. Kan begini, ada satu keluarga miskin yang punya anak. Nah coba pikirkan, bagaimana mau bicara soal gizi untuk anak tersebut. Apabila untuk makan saja dari hari ke hari dan kedepannya itu belum tentu bisa tertangani dengan baik,” terangnya.

Maka itu, untuk mengentaskan kemiskinan ekstrem sekaligus menurunkan angka stunting di Bumi Etam.

Politikus PDI Perjuangan Dapil Kota Samarinda ini meminta agar pemerintah bisa melaksanakan kegiatan positif secara berkesinambungan hingga angka kemiskinan ekstrem dan stunting turun sesuai target.

Maksudnya, penyelesaian masalah kemiskinan ekstrem dan kasus stunting harus dikeroyok bersamaan.

Pemerintah tidak bisa mengatasi masalah stunting saja kemudian mengabaikan kemiskinan ekstrem. Akan tetapi, persoalan kemiskinan ekstrem juga harus diperhatikan seiring pengentasan stunting.

“Diharapkan dari sisi pemerintah bisa lebih giat menggencarkan berbagai program dalam proses pembangunan kedepan. Harus banyak menciptakan kegiatan-kegiatan padat karya, karena sangat berhubungan sekali,” pintanya.

Fenomena kemiskinan menjadi penyulut kasus stunting di berbagai daerah di Indonesia. Salah satu hal yang membawa dampak tersebut yakni keterbatasan atau kurangnya lapangan pekerjaan yang menjadi penyebab utama dari timpangnya angka kemiskinan di perdesaan ataupun perkotaan.

Berdasarkan data yang ada, 60 persen dari kasus stunting yang terjadi saat ini banyak dialami oleh keluarga miskin ekstrem.

Bahkan ada beberapa kasus yang dipengaruhi oleh faktor kurangnya ketersediaan kebutuhan dasar seperti akses air bersih, fasilitas sanitasi dan masalah lainnya. (ADV/DPRDKALTIM)

Baca Juga