Top Picks
Fraksi PPP Berharap Dua Usulan Raperda Pemerintah Segera di Sahkan Menjadi Perda Untuk Kepentingan Masyarakat Perhatikan Atlet Berau, Sri Juniarsih Jemput Kontingen PON di Bandara Resmi di Lantik Pengurus DPC PWRI Kutim, Bupati Ardiansyah Harap Jurnalis Menyampaikan Infomasi yang Akurat dan Faktual Komisi II Jalin Koordinasi dengan Pemprov Kaltim dan BPH Migas Sambut Kejurprov Panahan, Gubernur: Semoga Sukses dan Menghasilkan Bibit Handal Anggota Dewan Syaiful Bakhri Sebut Program Pendistribusian Ambulan se-Kecamatan Kutim Langkah Positif

Kenduri Sang Dewi Di Kutai Timur (part 2)

Dinobatkan Sebagai Warisan Budaya Indonesia

Nama lain Lom Plai adalah Emboh Jengea atau Pesta Panen. Upacara ini dilaksanakan oleh masyarakat Dayak Wehea setelah mereka selesai panen padi.

Karena peran acara adat dalam pelestarian budaya, Lom Plai telah dinobatkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Republik Indonesia, tanggal 20 Oktober 2015

Lom Plai sebagai pengungkapan rasa syukur atas panen yang telah mereka dapatkan. Upacara ini terdiri dari beberapa rangkaian yang masing-masing rangkaian tersebut saling berkaitan dan upacara ini berlangsung selama 1 bulan. Pelaksanaan upacara ini dimulai dengan pemukulan gong yang dilaksanakan di rumah adat (eweang).

Lom Plai diakhiri dengan upacara embos epaq plai (membuang hampa padi) yang bermakna untuk mengusir dan membuang segala yang jahat bersama terbenamnya matahari serta mendoakan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat, ternak dan makanan.

Upacara ini dilakukan untuk memperingati pengorbanan dari Long Diang Yung (putri tunggal Ratu Diang Yung, penguasa suku Wehea) yang rela mengorbankan dirinya untuk masyarakat yang sedang dilanda bencana kelaparan dan kekeringan.

Setelah pengorbanannya masyarakat dapat hidup makmur dan mendapat panen yang berlimpah. (*)

Baca Juga